Wilujeng sumping di forum diskusi Tasik Kota Resik
Anda belum login.
Halaman: 1
saya rasakan sekarang kota tasik sesak dengan pengamen dan anak jalanan serta pengemis yang memenuhi area MASJID AGUNG KOTA TASIKMALAYA. apalagi setiap hari jumat . saya rasa hal itu perlu ditertibkan. karena terkadang mengganggu pemandangan indah kota tasik yang katanya resik. thanks
Offline
Iya tuh,, kayaknya harus sering2 di adakan operasi Gepeng deh !! jadi tar Tasik berantakan krn ulah mereka..
Offline
Satu ciri kota besar di Indonesia yah pasti didalamnya ada pengemis & pengamen , kalo ditertibkan aneh rasanya apakah mereka saat ini tidak tertib? saya kira mereka saat ini sudah tertib ngamen di perempatan jalan kalo pas lampu merah saja , ngamen puter2 kampung atau warung nasi kalo pas ada orangnya, terus anak jalananpun saya kira sudah tertib karena mereka hidup dijalan ( red. bukan anak jalanan kalo hidup tidak dijalan ). sebetulnya pokok permasalahannya bukan mereka mesti ditertibkan, tapi lebih ke cara hidup & dan cara mereka mencari nafkah yang mesti diberantas,layaknya mereka dikasihani dengan diberi penerangan,dan latihan2 kerja lainya yang bermanfaat untuk hari ini & masa depan mereka...
Offline
Di Indonesia, banyak sekali orang yang senang disebut orang miskin.
Supaya dapat BLT, pengobatan gratis, dan dikasih zakat
Offline
mengemis bukan lagi keterpaksaan mencari uang karena butuh
tapi udah jadi pekerjaan kali ya
kalo daftar jadi pengemis butuh skck engga ya?![]()
mereka jadi pengemis bukan karena emang engga bisa bekerja yang lain, tapi karena emang dengan mengemis lebih banyak menghasilkan uang
mungkin jika begitu, untuk memperkecil jumla pengemis, bagi mereka yang suka memberi uang ke pengemis, sebaiknya dihindari aja, kalo mau sedekah meningan ke BAZ aja, atau kalo jumlahnya kecil bisa masukin kencleng mesjid.
Offline
safir menulis:
mengemis bukan lagi keterpaksaan mencari uang karena butuh
tapi udah jadi pekerjaan kali ya
kalo daftar jadi pengemis butuh skck engga ya?
mereka jadi pengemis bukan karena emang engga bisa bekerja yang lain, tapi karena emang dengan mengemis lebih banyak menghasilkan uang
mungkin jika begitu, untuk memperkecil jumla pengemis, bagi mereka yang suka memberi uang ke pengemis, sebaiknya dihindari aja, kalo mau sedekah meningan ke BAZ aja, atau kalo jumlahnya kecil bisa masukin kencleng mesjid.
beuuuhhh...satuju pisan sim kuring ka kang safir..
maranehna aya kumargi ulang urang2 keneh..
da mun teu aya nu masihan artos ka pengemis atawa pengamen mah moal araya atuh...
matakna sim kuring mah tos hampir 100 % tara masihan ka pengemis, mun ka pengamen mah tergantung..
soalna emang aya pengamen nu soaran sae, lagu na enak, bawaanna sopan.. trully street singer lah.. sim kuring nembe masihan..
kumaha tah nu sanesna..??
Offline
sami simkuring ge
salami di tasik tcan pernah masihan ka pengemis di sisi jalan pinggir toko
pernah ketang sakali masihan nuju smp etage da kumargi tugas ti guru kedah neliti kahirupan pengemis, jadi we sekedar tips atos kersa diwawancara masihan artos ![]()
Offline
Yanuar menulis:
beuuuhhh...satuju pisan sim kuring ka kang safir..
maranehna aya kumargi ulang urang2 keneh..
da mun teu aya nu masihan artos ka pengemis atawa pengamen mah moal araya atuh...
matakna sim kuring mah tos hampir 100 % tara masihan ka pengemis, mun ka pengamen mah tergantung..
soalna emang aya pengamen nu soaran sae, lagu na enak, bawaanna sopan.. trully street singer lah.. sim kuring nembe masihan..
kumaha tah nu sanesna..??
Karna hujan, kemarin sore pulang naik angkot 05 jur indihiang. Hanya ada 2 penumpang saya dan neng seragam SMA. Di lampu-merah mesjid agung naik 2 orang anak-muda dua2nya kaos hitam yg satu bw gitar. Begitu anak-muda itu masuk angkot .... baunya brooo...saya apal betul itu bau miras (ulah bilang abdi apal bau miras karna bekas peminum).
Agak ngeri juga liat mereka, yg satu sempat tiduran di jok pendek yg kebetulan kosong, satunya lagi duduk antara saya dg neng sambil coba2 nanya neng tinggal di mana. Sepanjang perjalanan saya jadi kepikiran anak saya yg suka pulang les sampai petang kalau2 ketemu manusia spt mereka....
Eh... ternyata tadi pagi saya liat mereka ngamen di lampu-merah Mitrabatik...
Soal pemberian, saya mah kadang paling ngasih sekedarnya baik k pengemis atanapi pangamen. Kalau ngasih banyak dikawatirkan jd ketergantungan (keenakan ?). Bandingkan penjaja koran/rokok yg pakai modal untungnya tdk terlalu besar masa pengamen yg hampir tanpa modal dikasih banyak.
Apalagi setelah pengalaman di angkot kemarin...JANGAN2 HASIL NGAMEN BUAT BELI MIRAS.........
Offline
Salam kenal semuanya. saya member baru. Mau ikut nimbrung nih.Sekedar berbagi cerita
beberapa hari lalu ketika sedang mengantri di atm untuk sekedar melihat saldo,ada 2 orang pengamen yang menghampiri kita2 yang lagi antri,kebetulan waktu itu ada seorang ibu didepan saya. Mereka langsung bernyanyi lagu sunda buatan sendiri,karena waktu itu saya tidak memberi (saya mempunyai beberapa penilaian sendiri untuk memberi)dan dengan berkata "punten", ternyata mereka terus bernyanyi.
Yang membuat saya kaget,lirik lagu mereka dalam bahasa sunda terkesan menyindir,bahwa banyak orang senang yang tidak mau memperhatikan orang kecil, nantinya matinya bagaimana dsb. Akhirnya tak ada satu orangpun yang memberi uang pada mereka. Seraya berlalu samar-samar saya mendengar omelan mereka.
Dalam hati saya mengucap "Astaghfirullah" ada apa dengan orang-orang ini. Karena hal ini bukan yang pertama kalinya saya lihat, namun baru saya alami. Apalagi jika hari minggu di Dadaha. Malah terkadang mereka menghampiri, ketika kita sedang di area parkir,membeli koran di pinggir jalan dsb.
Karena saya sudah banyak bertemu dan menyaksikan beberapa pengamen,baik di Ibukota, maupun kota-kota lainnya, dan baru kali inilah bertemu pengamen, yang bernyanyi dengan lirik lagu menyindir, di kota kita yang tercinta ini.
Mohon maaf ini hanya sekedar ungkapan rasa sedih saya terhadap sekelumit kisah yang terjadi di kota kita ini.
Apakah rekan-rekan lain punya pengalaman seperti saya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Info Tentang N Gage
Info Tentang Gadget
Offline
@yoens
betul eta teh kang.
Mun nu ngemis jeung ngamen na ngora keneh mah sok dianggo mabok.
mere sedekah ka nu kitu mah sarua jeung ngabebejokeun / manja
Tobat atuh euy ... !!!
Offline
mhs_kritis menulis:
betul eta teh kang.
Mun nu ngemis jeung ngamen na ngora keneh mah sok dianggo mabok.
mere sedekah ka nu kitu mah sarua jeung ngabebejokeun / manja
Tobat atuh euy ... !!!
Yah begitulah kang,jaman sekarang udah aneh. Pengamen buruk 1,jadi buruk semua. Bukankah kalau sopan,akan lebih dihargai oleh orang lain.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Info Tentang N Gage
Info Tentang Gadget
Offline
Andri S Krisnaya menulis:
Satu ciri kota besar di Indonesia yah pasti didalamnya ada pengemis & pengamen , kalo ditertibkan aneh rasanya apakah mereka saat ini tidak tertib? saya kira mereka saat ini sudah tertib ngamen di perempatan jalan kalo pas lampu merah saja , ngamen puter2 kampung atau warung nasi kalo pas ada orangnya, terus anak jalananpun saya kira sudah tertib karena mereka hidup dijalan ( red. bukan anak jalanan kalo hidup tidak dijalan ). sebetulnya pokok permasalahannya bukan mereka mesti ditertibkan, tapi lebih ke cara hidup & dan cara mereka mencari nafkah yang mesti diberantas,layaknya mereka dikasihani dengan diberi penerangan,dan latihan2 kerja lainya yang bermanfaat untuk hari ini & masa depan mereka...
Bukan saatnya berargumen yang mungkin ungkapan seperti itu sudah tak perlu disampaikan. Bahasa akademis yang anda sampaikan memang pantas untuk dijadikan wacana. tapi tidak pantas untuk dijadikan rujukan solusi.
Argumen anda di atas tidak ada bedanya antara tertib tempat dan cara hidup para pengemis/jalanan. prosesnya sama saja ditertibkan.......tapi siapa yang akan menertibkan...???? mereka sendiri atau aparat berwajib??? mereka sendiri tidak akan mungkin karena itulah mata pencaharian mereka...Aparat berwajib..nah ini yang punya kewajiban.. jadi bukan masalah aneh atau tidaknya dalam hal ketertiban. Bahasa yang anda gunakan hanya berlaku di kalangan akademis bukan dikalangan masayarakat bawah spt saya yang tidak paham tentang argumentasi berbelit--belit.
Offline
Halaman: 1