Bale Wiwitan – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir di Kec Tamansari, Kota Tasikmalaya, setiap harinya menerima pasokan sampah sebanyak 1.306 meter kubik. Masalah sampah merupakan hal yang pelik yang dihadapi Pemkot Tasik saat ini ditengah keinginan besar menjadikan Kota Tasikmalaya sebagai kota tingkat menengah di Indonesia peraih penghargaan Adipura, tahun depan.
Dari data yang ada di Dinas Lingkungan Hidup dan Pelayanan Kebersihan (Dinas LHPK) Kota Tasikmalaya, produksi sampah di Kota Tasik setiap harinya disumbang sebanyak 60% berasal dari sampah rumah tangga, 12% dari pasar, serta sisanya berasal dari wilayah lainnya yang tercecer di sungai dan jalan raya. “Selain tingkat kesadaran masyarakat yang masih kurang, penyebab selalu munculnya persoalan sampah ini dikarenakan juga sarana dan prasarana yang sangat minim,” kata Kadis LHPK Eddy Sumardi mengatakan hal tersebut disela-sela sosialisasi Adipura di Gedung Galih Pawestri, Jalan Wiratanuningrat, kemarin.
Sebagai gambaran sangat minimnya sarana dan prasarana pengelolaan sampah, saat ini ada 16 armada truk pengangkut sampah, dimana yang dapat dioperasikan hanya empat buah armada saja, sedangkan sisanya kalaupun masih bisa dioperasikan itupun sangat dipaksakan karena kondisi kendaraan yang sudah lapuk dimakan usia. “Meskipun Daya tampung TPA Ciangir saat ini memang masih besar, tetapi bila dalam pengelolaannya kurang baik serta masyarakat tidak memiliki kesadaran, maka bukan tidak mungkin persoalan sampah akan menjadi permasalahan besar yang akan dihadapi Kota Tasik dikemudian hari,” jelas Eddy.
Eddy berharap, masyarakat sadar untuk mengelola sampah-sampah tersebut untuk dibuang sendiri sehingga mengurangi timbunan sampah yang dikirim ke TPA Ciangir. “Beberapa cara pengelolaan sampah rumah tangga sebenarnya telah dilakukan dan disosialisasikan, tinggal masyarakat sendiri meresponnya dengan baik. Karena memang pengelolaan kami di TPA masih sangat terbatas,” tambah Eddy, menutup penjelasannya. (AT/WebNews/edt)
(Sumber: NK/Sindo)