Ciri Khas

20 Juni 2015 WIB
1. 
 
Masjid Agung Tasikmalaya
Masjid megah di jantung Kota Tasikmalaya, letaknya sangat strategis dipertemuan Jl. KH. Z Mustofa, Jl. Dr. Soekarjo, Jl. Yudanegara, Jl. Otto Iskandar Dinata, Jl. Ikik Wiradikarta, dan Jl. Kaum. Berdasarkan sejarahnya, masjid ini adalah bentuk arsitektur terkini dari masjid yang pertama kali dibangun tahun 1886 di lokasi tersebut. Renovasi terakhir berlangsung tahun 2002, dan diresmikan kembali pemanfaatannya oleh Wakil Presiden RI Hamzah Haz. Selain tempat pelaksanaan sholat fardlu, masjid ini menjadi pusat kegiatan besar seperti Sholat Idul Fitri, Idul Adha, dan tabligh akbar. Disamping itu, DKM Masjid Agung Tasikmalaya aktif menggunakan masjid ini sebagai pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
2.

 

 

  Balekota Tasikmalaya
  Pada masa status Kota Administratif Tasikmalaya, sejak tahun 1976 Walikota berkantor di gedung Kotif, Jl. Otto Iskandardinata. Setelah statusnya menjadi daerah otonom Kota Tasikmalaya pada tahun 2001, Walikota dan Wakil Walikota berkantor di gedung Bale Wiwitan, Jl. Noenoeng Tisnasaputra, kemudian pindah ke gedung Balekota Tasikmalaya, Jl. Letnan Harun No. 1 Tasikmalaya, yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H. Danny Setiawan pada tanggal 2 April 2007. Arsitektur Balekota Tasikmalaya cukup menarik, gedungnya persegi panjang, didalamnya terdapat ruang terbuka berbentuk empat persegi panjang yang dipisah bangunan joglo sehingga sirkulasi udara mengalir nyaman dan cahaya matahari berlimpah. Bentuk atap di teras depan dan joglo seolah tumpukan payung geulis, produk khas dan lambang Kota Tasikmalaya.
 3.

 

 

 
  Tugu KHZ. Musthafa
  Tugu ini berupa monumen dengan tulisan lafadz Allah dalam huruf Arab, dibangun untuk mengenang dan mengabadikan nama KH. Zainal Musthafa, pimpinan pondok pesantren Sukamanah, sosok pahlawan nasional dari daerah Singaparna, Tasikmalaya yang sangat tegas dan berani menyerang kebijakan politik kolonial Belanda dan Jepang hingga puncaknya pada tanggal 25 Pebruari 1944 terjadi pertempuran berdarah antara santri -  santri KH. Zainal Musthafa melawan pasukan Jepang, di Singaparna. Tugu ini dibuat menggunakan bahan perunggu, dikelilingi kolam dan taman melingkar, terletak sekitar 3,5 km dari pusat kota, berdiri tepat di persimpangan jalan dari arah Jl. Ir. H. Juanda - Jl. Brigjen Sutoko - Jl. Mayor SL. Tobing - Jl. Gubernur Sewaka - Jl. AH. Nasution.
 4. 


 

 
  Tugu Kodam Siliwangi
  Berdasarkan maklumat pembentukan Komandemen I Tentara Keamanan Rakyat, bahwa di Jawa Barat dibentuk tiga divisi, yaitu Divisi I meliputi Karesidenan Banten dan Bogor, Divisi II meliputi Karesidenan Jakarta dan Cirebon serta Divisi III meliputi Karesidenan Priangan. Pada 20 Mei 1946 ketiga divisi tersebut disatukan dengan nama Divisi Siliwangi, dipimpin oleh Kolonel Abdul Haris Nasution dengan markas komando di Tasikmalaya, kemudian pada 24 Juli 1950 nama Divisi Siliwangi berubah menjadi Tentara Teritorium III Siliwangi, lalu pada 24 Oktober 1959 kembali lagi menjadi Kodam VI/Siliwangi, dan sejak 2 Februari 1985 hingga sekarang menjadi Kodam III/Siliwangi. Untuk mengenang dan mengabadikan pembentukan Kodam III/Siliwangi di Tasikmalaya maka di eks kantor Kodam III/Siliwangi dibuatlah tugu peringatan. Tugu peringatan tersebut, sekarang terletak di samping Bank Mandiri, seberang alun-alun Tasikmalaya, Jl. Otto Iskandardinata, Tasikmalaya.
 5.

 

 

 
  Tugu Koperasi
  Tugu ini berjarak sekitar 2 kilometer dari  pusat kota, terletak di Jl. DR. Mohammad Hatta, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Tugu ini masih utuh berdiri dan cukup terawat, bentuknya berupa 12 pilar setinggi 3 meter ber-shap, setengah huruf U, mengitari logo koperasi lama bergambar pohon beringin terbuat dari kuningan. Pilar sebanyak 12 merupakan simbol tanggal, bahwa tanggal 12 Juli merupakan hari Koperasi Indonesia. Di samping tugu, tertulis catatan pada sebuah plang, “Di sini tempat berlangsungnya kongres koperasi yang pertama, tanggal 12 - 14 Juli 1947 antara lain memutuskan, 12 Juli sebegai hari Koperasi Indonesia”. Kongres itu sendiri dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, yakni DR. Mohammad Hatta.
 6.

 

 

 
  Tugu Simpang Lima
  Tugu ini terletak di persimpangan Jl. RE. Martadinata, Jl. Dr. Soekardjo, Jl. Moh Hatta, Jl.Panglayungan 1 dan Jl. Kapten Naseh. Tugu ini memiliki hiasan relif berbentuk manusia pada bagian bawahnya, dan pada bagian atas terdapat lambang Kota Tasikmalaya dan lambang Burung Garuda Pancasila dan ujung tugu diberi hiasan berbentuk bulat. Tugu Simpang Lima Kota Tasik ini jika malam hari terlihat indah dengan dilengkapi lampu yang dipasang pada tugu tersebut, dengan demikian banyak orang yang sering nongkrong (bercengkrama) dekat Simpang Lima itu sendiri. Yang menarik di bagian bawah terdapat logo karikatur Mang Ohle dari koran Pikiran Rakyat (PR), karena donatur pembangunan tugu tersebut adalah grup PR.